Tampilkan postingan dengan label just my two cents. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just my two cents. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2019

yang tak pernah mengeluh meski terus berpeluh

... bahwa tidak ada cinta yang hadir tanpa ada kesediaan untuk selalu saling hadir ...


februari keenam dari perkenalan singkat kita. sudah banyak, sangat banyak perbedaan yang kita perdebatkan. pun halhal kecil sederhana yang kita bagi dua. bagianku lebih banyak, jika itu bersoal kesenangan. ah ya, aku terlalu sering memunculkan sikap kekanakanku saat bersamamu. kamu tahu, itu lebih menyenangkan.

hidup dengan seorang yang awalnya begitu asing kemudian menjelma menjadi seseorang yang mau berjuang penuh untuk ku dan anak-anak tanpa sekalipun keluh terucap. aku tidak pernah membayangkannya. tapi menjalaninya begitu menyenangkan.

lihat, kamu begitu pandai menyenangkanku. meski bibirku beberapa kali mengerucut. alisku beradu. tak ada nada tinggi dalam suaramu. hanya diam.

aku yang selalu disibukkan dengan berbagai rencana. kamu iyakan.
pun ketika semua rencana itu hanya berjalan diawal. kamu tak marah sedikitpun.
dan onggokan-onggokan rencana yang baru sedikit dijalankan itu mulai sering menggangguku. lagilagi kamu hanya mengingatkan ada dua anak yang selalu berbinar ketika aku hadir utuh, penuh.
dan aku sering acuh.

hingga pada satu titik, aku tersadar.

terkadang kita terlalu berusaha untuk jadi yang terbaik. terlalu ingin dia yang kita sayang merasa cukup bahagia dengan kehadiran kita. lalu kecewa sendiri dibuatnya.
menjadi baiklah untuk diri sendiri, katamu.

maka orang-orang terdekat akan ikut merasakan itu. energi positifnya akan berbahagia bersama sekeliling kita.


kepadamu yang tak pernah mengeluh lelah, meski peluh tengah mengaliri setiap bagian kulitmu.
aku menyayangimu.


dan kamu benar mengiyakan pintaku dulu :
kamu, tak perlu mengagumkan untuk bisa ku sayangi. kamu cukup bersabar saat aku marah. dan tetap tinggal walau aku membosankan.

terima kasih, kamu.
-ade
11022018

corat coret

hari ini agak tercenung membaca status salah seorang penggiat pendidikan yang kebetulan berteman di fb.

menurut beliau :
'Stop lomba mewarnai untuk anak-anak kita. 73 tahun merdeka kreativitas anak kita terpasung karena pesan sponsor!'

ramai komentar di status itu. pun di beranda teman-teman yang share status tersebut.


saya?
emak beranak dua yang tidak berani berkomentar. mengiyakan pun hanya dalam hati. belum berani menekan tombol share. khawatir ikut ramai nanti beranda.
saya mah gitu, orangnya cinta damai. #ehgimana


cia (3y8m) punya dua buku mewarnai. 1 dari spg susu. 1 dari bonus saya mencapai target penjualan salah satu grup buku direct selling yang saya ikuti. dua duanya masih utuh. cia belum tertarik mewarnai. kecuali kalau mewarnai tembok termasuk di dalamnya.

sejauh ini cia lebih senang corat coret di kertas A4 yang dibelikan bapak. adiknya, dipta (2y), juga. eh, dipta lebih suka mencoratcoret diri sendiri, si. atau merebut apapun yang dipegang mbaknya.

eh, kok saya jadi banyak curhatnya.


kembali ke persoalan mewarnai.

ingat seorang senior beda jurusan, beda kampus, bilang ke saya.
'buku mewarnai itu ga bagus buat anak-anak. karena mereka jadi terpaku sama bentuk gambaran suatu benda. lagian gambar di buku mewarnai pasti bagus-bagus. itu secara gak langsung membuat anak membandingkan gambar dia sendiri sama gambar di sana yg tentu saja bagusan di buku mewarnai, kan. itu bisa bikin anak gak pede sama hasil gambar sendiri. bisa mengurangi kreativitas.'

wow! kakak senior bilang gitu sekitar 9 (iya, sembilan) tahun yang lalu dan saya masih ingat betul. ya gimana, benar-benar melekat di otak saya.

apalagi beberapa tahun setelahnya, 3 tahun berturut-turut saya tinggal di semarang dan selalu melihat hasil karya anak2 ikut lomba mewarnai dan menggambar yang diadakan kantor suami.
dan hasilnya?

pewarnaan para pemenang itu setipe. gradasi, contour, tarikan crayon, pun hasil akhir. peralatan tempur yang mereka gunakan juga hampir semua sama. yang peralatannya berbeda? ya hasilnya beda. terus sepertinya belum pernah ada yang menang.

kata suami, ini nih tempat les gambar dan mewarnai anak-anak itu. sambil menunjuk sebuah tempat. saya mengangguk-angguk.


well, tulisan saya ngacak.

tapi intinya satu hal,
saya bersyukur, anak-anak lebih suka menggambar abstrak lalu menyatakan bahwa ini layang-layang. ini es krim. ini burung. dan benda lain dengan lantang serta percaya diri.
semoga bunda bisa terus menjaga dan mengasah fitrah belajar kalian, nak.


 : doc pribadi
kata cia itu es krim 

Rabu, 24 Oktober 2018

galau dan produktivitas

Galau menurut wikibahasa memiliki dua arti. Pertama, adalah sebuah perasaan yang mengungkapkan rasa bingung. Seperti dihadapkan dengan 2 pilihan.
Kedua, galau bisa juga diartikan sebagai ungkapan rasa dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi atau didapatkan. Seperti, putus cinta atau kasih yang tak sampai. 
Baik yang pertama maupun yang kedua, galau sama-sama menyoal rasa. Sama-sama gamang dan semacam tidak tahu arah tujuan.
Lalu apa hubungannya dengan produktivitas?
Kegalauan mempengaruhi produktivitas. Iya. Sangat berpengaruh.
Orang galau, terutama dalam arti kedua, biasanya memiliki perasaan yang mendadak sangat peka. Atau dalam bahasa sekarang, baper. Dengar lagu, langsung konek dengan apa yang dirasakan. Dengar cerita, biasanya dihubung-hubungkan. Membaca update-an seseorang, bisa langsung dijadikan bahan perbandingan dengan diri sendiri.
Akibatnya? Orang tersebut disibukkan oleh rasa, oleh hati. Lalu apa-apa yang harus dikerjakan pun terbengkalai. Atau jika tetap dikerjakan pun, hasilnya biasanya kurang optimal.
Akhirnya produktivitas menurun. Kualitas hidup juga ikut turun. Bahkan hubungan dengan orang lain bisa ikut terpengaruh karena performa yang ikut memburuk.
Berbanding terbalik jika galau dihubungkan dengan produktivitas menulis. Semakin galau, tulisan yang dihasilkan biasanya akan semakin banyak. Semakin bagus. Dan semakin kaya. Baik kaya rasa, kaya rupa dan kaya empati.
Setidaknya itu yang saya rasakan di masa galau. Banyak menghasilkan tulisan yang benar dari hati. Serta memiliki bentuk tulisan yang bagus.
Lalu sekarang, apakah saya sudah tidak merasakan galau lagi?
Hmm... jika pilihan antara mencuci baju anak atau baju saya dan suami hari ini? Mau masak apa hari ini? Anak tidur, mending ikut tidur atau berbenah ya? Buka socmed enaknya fb atau ig dulu? Dan semacam itu termasuk kegalauan, maka saya galau setiap hari.
Bekasi, 24 oktober

Selasa, 18 September 2018

bahasa kasih

cara termudah mencintai adalah dengan kita merasa dicintainya
sudah menikah berapa lama, mak?
alhamdulillaah saya akan enam tahun. masih seumur jagung, kata orang tua saya (ya iyalaaaahhh). masih banyak yang harus disesuaikan dan menyesuaikan.
pernah merasa tidak disayang suami?
pernaaahh ahaha
apalagi ketika saya tanya 'akak sayang gak si ama ade?'. dan jawaban suami selalu 'enggak'. udah, titik. ga ada apa-apa lagi.
awal-awal ya saya manyun lah digituin.
terus hari-hari yang kita lalui bersama selama ini kamu anggap apa, mas???
#zoominzoomout
kalau sekarang? saya bisa menimpali:
'enggak salah lagi'
'enggak sedikit, tapi banyaaakk banget'
'enggak ada yang lain selain ade'
'enggak akan habis rasa sayang akak ke ade'
(kemudian dilempar sepatu)
maka suami akan tergelak.
entah kenapa, saya lebih sering ngegombalin suami meski sering dibalas: 'apa, si?' sambil suami senyum-senyum uyelable #EH!
tapi seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa masing-masing kita memilki cara untuk menyayangi, membahasakan perasaan yang dimiliki. pun perasaan disayangi.
ketika saya sibuk bertanya-semacam butuh banget pengakuan- maka suami akan lebih damai membahasakannya.
bangun lebih awal, menyiapkan bekal, anak-anak yang makan makanan hasil masakan saya, anak-anak ditemani membaca buku dan bermain.
itu yang lebih membahagiakannya.
terbukti ketika saya pengen nyetok seblok demi menjaga kewarasan (iyaa, jajan seblok doang saya bahagiaaa), suami mengiyakan.
saya mengingatkan suami akan kebutuhan anak-anak, jarang ada penolakan.
saya membahas mengenai hal remeh, suami menanggapi.
saya mengajak diskusi tentang masa depan, suami bersemangat sekali.
saya minta jalan-jalan keliling eropa, suami megang dahi saya buat cek suhu.
aduh, jadi curhat rumah tangga giniii...
ahaha gapapa ya sesekali.
semua karena kulwapnya diskusi emak kekinian, nih.
bekasi, 18 september
procrastinator does exist!!

koentji nya adalaaahh

komunikasi adalah koentji.
ya, itu yang selalu abah saya katakan sejak kakak saya akan menikah.
'syarat abah ga banyak. yang penting orangnya sayang sama kamu.'
demikian tanggapan abah mengenai calon suami. sudah. tidak ada kriteria lain-lainnya.
beberapa hari yang lalu saya baru saja mengikuti diskusi grup whatssapp tentang komunikasi suami istri. ternyata hanya dari komunikasi saja bisa mempengaruhi banyak hal.
ada yang merasa baik-baik saja karena selama ini adem ayem, lempenglah. ada juga yang suami merasa baik-baik saja tapi istri tidak merasakan hal yang sama. ada juga yang keduanya tahu bahwa sedang tidak baik-baik saja tapi tidak tahu juga ketidakbaik-baikannya ada di mana.
nah, disinilah pentingnya komunikasi. baik mengenai apa yang disampaikan, cara penyampaian dan waktu yang tepat.
kalau misal masih terasa sulit, ada saja ketidaksesuaian, bisa jadi ada faktor-faktor yang lainnya. jangan menyerah, teruslah trial error. agar makin lihai berkomunikasi dengan pasangan sehidup sesurga, insyaAllah.
saya jadi ingat alasan saya meng-iyakan pinangan suami saat itu.
karena saya nyaman berkomunikasi dengan dia dalam kondisi dan cara apapun.
ya,
pilihlah pasangan yang kamu nyaman berkomunikasi dengannya dalam kondisi dan cara apapun, sebab dengan dialah kamu akan terus dan harus berkomunikasi hingga tutup usia.
bekasi, 18 september
-dyas

Jumat, 07 September 2018

tentang penampilan

'kamu niat banget, ya yas buat memperbaiki keturunan.'
ya, itulah respon yang pertama saya dapat ketika mengabarkan tanggal pernikahan dan memperlihatkan foto calon suami kepada seorang sahabat. saya tergelak sambil menoyor kepalanya.
dia laki-laki. teman berseragam abu-abu. lebih tua dua tahun dibanding saya.
body shaming
ya, tanpa disadari, kalimat yang diucap sahabat itu termasuk body shaming.
dan tanpa disadari lagi, mungkin kita (atau saya saja) pun sering melakukannya. meski hanya dalam hati.
bersyukur masih masuk dalam barisan yang mampu menjaga lisan alih-alih mengeluarkan first-impression yang biasanya gak jauh-jauh dari tampilan fisik.
ada penulis yang sudah menghasilkan banyak buku, bahkan difilmkan. namun dibanding mengapresiasi karya beliau, beberapa orang memilih mengomentari fisiknya. bahkan dengan kalimat yang tidak sopan.
ada seorang ibu rumah tangga yang sangat suka memasak. menghasilkan tiga buku resep yang best seller. anak-anak yang sehat dan membanggakan beliau. bertubuh gemuk. lalu seseorang men-dm beliau hanya untuk bilang 'kalau saya malu punya anak gemuk kayak anak ibu'.
ada seorang teman yang harus melahirkan premature, qadarullaah bayinya meninggal. saat datang ke reunian, ada yang bilang 'eh, kok kamu gendut banget sekarang'.
ada mahasiswa di jamannya yang memiliki ide briliant. namun dia tidak berani untuk mempresentasikannya sehingga meminta teman lain untuk melakukannya. saat ditanya alasannya? 'dia lebih ganteng dibanding gue'.
ada juga seorang ibu rumah tangga yang selalu berusaha memasak untuk kebutuhan gizi anaknya. namun si anak memilih makan nasi doang atau kentang doang. lalu tetangga berkomentar 'eh, kok kakak adik kurus-kurus, si. pada ga dikasih makan, apa?'
(ha ha ha... kemudian saya nyempilin curhatan)
sungguh, kalimat-kalimat itu gak hanya menyakitkan. tapi mampu masuk ke pikiran dan menghasilkan pandangan yang sama dari diri sendiri.
seburuk apa pengaruhnya?
bukankah angka bunuh diri karena hal ini bisa menjadi jawabannya?
ayolah, masih banyak hal yang bisa kita bahas bersama orang lain selain tentang fisik.
body shaming bukan budaya, jangan sampai jadi budaya. meski beberapa belum mampu menahan lisan untuk tidak mengomentari fisik orang yang ditemuinya. tapi bukan berarti kita tidak bisa kan?
'when you judge a woman by her appearance, it doesn't define her self, it defines you.' -steve maraboli

Kamis, 30 Agustus 2018

kurban (korban?)

daging masih bu?
alhamdulillaah... masih banyak. belum berhasil nurunin berat badan soalnya. #gimanagimana
eid adha tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. eh tahun ini saya ga ikut sholat eid. sama anak-anak saja mendamai di rumah. sesekali ke kamar mandi. diare berjamaah. ahaha
alhasil daging kurban tidak terolah. alhamdulillaah tukang bakso tidak libur berjamaah. jadi masih selamatlah lauk untuk bocah-bocah.
tentang kurban (korban kali ya lebih tepatnya untuk kasus ini).
baik, tentang korban.
seberapa sering sih kita playing victim atas apa-apa yang menurut kita tidak sesuai dengan harapan. nyalahin keadaan, lah. nyalahin kondisi, lah. nyalahin diri sendiri tapi karena ada faktor x dan x dan x, lah. intinya tidak mau sepenuhnya disalahkan atas ketidaksesuaian. mencari pembenaran atau (si)apapun untuk ikut dipersalahkan.
apalagi kalau kaitannya sama impian-impian yang tertunda. beuuuhh kondisi adalah hal yang paling jahat biasanya.
semacam menunda sekolah atau berkarya karena sudah ada anak. (laaahh... curhat).
padahaaaaalll... bisa jadi posisi korban sebenarnya adalah si anak yang kemudian terus menerus dipersalahkan. padahal mereka salah apa?
atau untuk hal lain. misalnya... apa ya?
pengiriman yang tertunda dan makan waktu lama untuk onlenshoper. pertama ekspedisi salah. ekspedisi kemudian bisa mempermasalahkan cuaca atau macet karena perbaikan jalan atau alamat palsu. la la la la la la laaaaaa....
contoh lain?
ah sudahlah, kalau mau melihat ke diri sendiri, bisa kok menemukan banyak contoh.
(lu sendiri aja kali, yas. orang lain mah enggak. ahaha)
jadiii... dari pada terus menerus menjejali pikiran dengan merasa menjadi korban, lebih baik kita segera menabung biar tahun depan bisa kurban kambing benerran. syukur-syukur bisa sapi. biar gak melulu korban perasaan. #eh
-dyas