Kamis, 27 Juni 2019

corat coret

hari ini agak tercenung membaca status salah seorang penggiat pendidikan yang kebetulan berteman di fb.

menurut beliau :
'Stop lomba mewarnai untuk anak-anak kita. 73 tahun merdeka kreativitas anak kita terpasung karena pesan sponsor!'

ramai komentar di status itu. pun di beranda teman-teman yang share status tersebut.


saya?
emak beranak dua yang tidak berani berkomentar. mengiyakan pun hanya dalam hati. belum berani menekan tombol share. khawatir ikut ramai nanti beranda.
saya mah gitu, orangnya cinta damai. #ehgimana


cia (3y8m) punya dua buku mewarnai. 1 dari spg susu. 1 dari bonus saya mencapai target penjualan salah satu grup buku direct selling yang saya ikuti. dua duanya masih utuh. cia belum tertarik mewarnai. kecuali kalau mewarnai tembok termasuk di dalamnya.

sejauh ini cia lebih senang corat coret di kertas A4 yang dibelikan bapak. adiknya, dipta (2y), juga. eh, dipta lebih suka mencoratcoret diri sendiri, si. atau merebut apapun yang dipegang mbaknya.

eh, kok saya jadi banyak curhatnya.


kembali ke persoalan mewarnai.

ingat seorang senior beda jurusan, beda kampus, bilang ke saya.
'buku mewarnai itu ga bagus buat anak-anak. karena mereka jadi terpaku sama bentuk gambaran suatu benda. lagian gambar di buku mewarnai pasti bagus-bagus. itu secara gak langsung membuat anak membandingkan gambar dia sendiri sama gambar di sana yg tentu saja bagusan di buku mewarnai, kan. itu bisa bikin anak gak pede sama hasil gambar sendiri. bisa mengurangi kreativitas.'

wow! kakak senior bilang gitu sekitar 9 (iya, sembilan) tahun yang lalu dan saya masih ingat betul. ya gimana, benar-benar melekat di otak saya.

apalagi beberapa tahun setelahnya, 3 tahun berturut-turut saya tinggal di semarang dan selalu melihat hasil karya anak2 ikut lomba mewarnai dan menggambar yang diadakan kantor suami.
dan hasilnya?

pewarnaan para pemenang itu setipe. gradasi, contour, tarikan crayon, pun hasil akhir. peralatan tempur yang mereka gunakan juga hampir semua sama. yang peralatannya berbeda? ya hasilnya beda. terus sepertinya belum pernah ada yang menang.

kata suami, ini nih tempat les gambar dan mewarnai anak-anak itu. sambil menunjuk sebuah tempat. saya mengangguk-angguk.


well, tulisan saya ngacak.

tapi intinya satu hal,
saya bersyukur, anak-anak lebih suka menggambar abstrak lalu menyatakan bahwa ini layang-layang. ini es krim. ini burung. dan benda lain dengan lantang serta percaya diri.
semoga bunda bisa terus menjaga dan mengasah fitrah belajar kalian, nak.


 : doc pribadi
kata cia itu es krim 