Selasa, 18 September 2018

bahasa kasih

cara termudah mencintai adalah dengan kita merasa dicintainya
sudah menikah berapa lama, mak?
alhamdulillaah saya akan enam tahun. masih seumur jagung, kata orang tua saya (ya iyalaaaahhh). masih banyak yang harus disesuaikan dan menyesuaikan.
pernah merasa tidak disayang suami?
pernaaahh ahaha
apalagi ketika saya tanya 'akak sayang gak si ama ade?'. dan jawaban suami selalu 'enggak'. udah, titik. ga ada apa-apa lagi.
awal-awal ya saya manyun lah digituin.
terus hari-hari yang kita lalui bersama selama ini kamu anggap apa, mas???
#zoominzoomout
kalau sekarang? saya bisa menimpali:
'enggak salah lagi'
'enggak sedikit, tapi banyaaakk banget'
'enggak ada yang lain selain ade'
'enggak akan habis rasa sayang akak ke ade'
(kemudian dilempar sepatu)
maka suami akan tergelak.
entah kenapa, saya lebih sering ngegombalin suami meski sering dibalas: 'apa, si?' sambil suami senyum-senyum uyelable #EH!
tapi seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa masing-masing kita memilki cara untuk menyayangi, membahasakan perasaan yang dimiliki. pun perasaan disayangi.
ketika saya sibuk bertanya-semacam butuh banget pengakuan- maka suami akan lebih damai membahasakannya.
bangun lebih awal, menyiapkan bekal, anak-anak yang makan makanan hasil masakan saya, anak-anak ditemani membaca buku dan bermain.
itu yang lebih membahagiakannya.
terbukti ketika saya pengen nyetok seblok demi menjaga kewarasan (iyaa, jajan seblok doang saya bahagiaaa), suami mengiyakan.
saya mengingatkan suami akan kebutuhan anak-anak, jarang ada penolakan.
saya membahas mengenai hal remeh, suami menanggapi.
saya mengajak diskusi tentang masa depan, suami bersemangat sekali.
saya minta jalan-jalan keliling eropa, suami megang dahi saya buat cek suhu.
aduh, jadi curhat rumah tangga giniii...
ahaha gapapa ya sesekali.
semua karena kulwapnya diskusi emak kekinian, nih.
bekasi, 18 september
procrastinator does exist!!