Rabu, 25 September 2019

ayam tetangga (ayam #1)

bukan, ini tidak ada hubungannya dengan sesuatu tentang ayam yang diperbincangkan akhir-akhir ini. itu loh, denda sekian juta jika ayam tetangga ke halaman kita atau ayam kita bertamu ke halaman tetangga. (dibahas)

dapur saya bertembok langsung ke halaman belakang yang sudah diberi tembok pembatas dengan kebun orang, lumayan tinggi. namun suatu hari, saya mendengar ciap-ciap anak ayam agak banyakan gitu dengan jelas. saya yang amat sangat jarang sekali ke belakang, karena ribed lewat pintu samping rumah melintasi atas kolam yang lama tidak difungsikan karena bocor, jadi penasaran.

lalu wa lah ke suami, memberitahu.
'iya, waktu beresin belakang ada telur ayam beberapa butir gitu. tapi nggak ada ayamnya,' begitu balas suami.

jadilah saya ke halaman belakang sama anak-anak.
sampai di sana... jeng, jeeeeennggg.... benar saja ada induk ayam beserta beberapa anak ayam. ya Allah... imut-imut sekaliii.


mbak c sangat senang. setiap saat dia mgningatkan untuk memberi makan ayam. cukup nasi sisa dan sedikit sayuran mentah yang dicacah.
adik d? cuek saja. masih bayik saat itu.

hampir sepekan kegiatan memberi makan ayam dilakukan. selama itu, saya sudah menanyakan ke tetangga sekitar, barangkali ada yang kehilangan ayam. namun nihil.

lalu pas iseng jalan-jalan ke gang belakang, saya kembali menanyakan.
sorenya, ada ibu-ibu datang ke rumah, bilang mau ambil ayam. ternyata itu ayam beliau, yang bertelur dan mengerami di halaman belakang.

dibawalah induk ayam beserta anak-anak ayamnya.

mbak c?
menangis histeris membuat si bapak berniat membelikan ayam warna warni. namun akhirnya urung karena halaman belakang masih berantakan oleh puing. lalu anak ayam biasanya masih rentan bukan?
selain itu, ayam warna warni, kelak dewasa menjadi ayam ras pedaging, dimana anak-anak ada alergi. saya yang konsumsi, mereka yang gatal-gatal saat masih asi dulu.

lalu bagaimana dong?

-dyas

gambar dari sini